kemarin sore secara tidak sengaja saya melihat tayangan berita di sebuah stasiun televisi yang melaporkan mengenai pengumuman kelulusan SMU di beberapa daerah di Indonesia.
apa yang menonjol dari tayangan itu?
kegiatan corat-coret baju? bukan
yang menarik perhatian saya adalah justru apa yang terjadi pada siswa yang tidak lulus.
ada yang histeris, bahkan di beberapa daerah ada yang mengalami kesurupan.
menyedihkan.
mendengar berita itu, yang terlintas dalam pikiran saya adalah kata “hukuman”.
sungguh, menurut saya ketidaklulusan adalah sebuah hukuman, dan merupakan bukti kegagalan dari suatu sistem pendidikan.
ya, sistem pendidikan yang gagal, namun para siswalah yang menerima hukumannya.
sekolah sebagai sebuah lembaga yang tugasnya mendidik seharusnya memberikan bekal untuk para siswanya agar dapat menjalani hidupnya ketika ia pantas disebut dewasa.
dan daya tangkap setiap siswa tidaklah sama.
seharusnya, menurut saya, sistem pendidikan Indonesia menghapuskan sistem kelulusan.
semua siswa yang telah menempuh pendidikan seharusnya diluluskan.
lha enak donk? trus apa fungsinya ujian?
nah disitulah peran ujian.
fungsi ujian adalah memberikan standarisasi, penilaian terhadap siswa tersebut.
namun hanya sebatas penilaian, bukan vonis bahwa siswa tersebut adalah produk gagal dan tak layak bersaing di dunia luar.
tidak.
jadi semua siswa itu pasti lulus dari sekolah, namun mereka keluar sekolah dengan membawa nilai.
jelek atau bagus, itulah hasil kerja mereka di sekolah.
dengan modal nilai itulah mereka akan bersaing di dunia luar.
kemudian universitas atau perusahaan yang membutuhkan mereka bisa menentukan standar apa yang dibutuhkan untuk bisa mereka rekrut.
dan dengan cara ini saya yakin para siswa akan lebih meningkat daya saingnya.
juga siswa dapat lebih bebas menyalurkan bakat dan minatnya.
maksudnya?
gini, jika ada siswa yang lebih berbakat dan berkeinginan terjun di dunia seni dan ingin melanjutkan ke universitas atau institut jurusan seni, sedangkan ia tidak menguasai matematika (tentu saja saya yakin ia sudah bisa penjumlahan,pengurangan,perkalian, pembagian dan operasi matematika sederhana lainnya) dan syarat untuk meneruskan kuliahnya adalah lulus SMU, maka ketika siswa tersebut gagal di mata ujian matematika, dapatkah lulus?
tentu tidak.
padahal ia lebih menyukai seni daripada matematika.
dan sejauh apa sih matematika diterapkan di seni teater, misalnya?
hanya karena ia gagal di ujian yang tidak disukainya, maka ia tidak bisa meneruskan cita-citanya.
adilkah itu?
bila sekolah meluluskan semua siswanya, si siswa walaupun meraih nilai jelek ia tetap bisa meneruskan kuliahnya. tidak peduli apakah ia lulus ujian matematika atau tidak, saya yakin seni teater tidak mengharuskan senimannya ahli dalam penghitungan diferensial.
ah…mungkin saya saja yang terlalu naif….

gambar dari sini
Berbagi